Perkawinan Antara Jin dan Manusia

Perkawinan

Perkawinan antara manusia dengan jin jelas tidak mungkin terjadi, karena perbedaan yang ada juga karena manusia atau jin memiliki watak yang berbeda. Manusia berkumpul dan tinggal bersama-sama sesama manusia dan jin dengan sesama jin.

Perkawinan antara jin dan manusia itu tidak akan terjadi, kecuali dalam satu kondisi, yaitu ketika jin menampakkan diri dalam bentuk manusia. Tetapi hal ini sangat jarang terjadi atau merupakan pengecualian yang hanya dalam dongeng. Pengecualian seperti itu tentu saja tidak bisa dikenai hukuman dikalangan jin. Kalaupun ada perkawinan yang menyimpang seperti itu, pasti tidak akan dapat menimbulkan kehamilan. Sebab sperma ji tidak sama dengan sperma manusia. Rahim jin juga bukan seperti rahim manusia. Sedangkan semua itu merupakan persyaratan itu merupakan persyaratan bagi terjadinya kehamilan.

Nuthfah manusia yang masuk ke rahim jin pasti akan berubah sepenuhnya, demikian pula sebaliknya. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin jin bisa melahirkan jin yang tidak terlihat dan manusia melahirkan manusia yang bisa dilihat? Masing-masing memiliki karakter sendiri.

Apabila seseorang mencampuri istrinya tanpa menyebut nama Allah, maka jin akan bergabung dengannya dan melakukan persenggamaan bersamanya. Ini merupakan peringatan bagi setiap muslim agar melindungi diri dari keterlibatan setan atau jin dengan cara membaca nama Allah SWT ketika melakukan persebadanan. Sebab kalau tidak membaca do’a, kemungkinan lkut melakukan persebadanan. Bahkan bisa pula dia mengeluarkan maninya bersama mani laki-laki tersebut, sehingga dapat merusaknya. Malahan tidak jarang pula terdapat wanita yang lalai berdzikir kepada Allah dan tidak pula bertaqwa, lalu setan atau jin jahat menampakkan diri dalam wujud suaminya, kemudian menggauli dan meninggalkan maninya dalam kelamin wanita itu. Hal seperti ini bisa terjadi di setiap persebadanan yang dilakukan seorang laki-laki terhadap istrinya. Akan tetapi jika mani itu cukup banyak, maka ia bisa merusak mani laki-laki itu. Akibatnyam terjadi keguguran. Ini juga merupakan bukti, bahwa perkawinan antara manusia dengan jin itu tidak dibenarkan. Kalaupun hal itu terjadi, maka hubungan seperti itu merupakan sesuatu yang abnormal. Hal-hal seperti itu adalah penyelewengan atau perzinaan yang dilakukan setan atau jin terhadap manusia perempuan. Hal itu juga bisa saja terjadi karena kelalaian wanita tersebut dalam memelihara dirinya.

Ada sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 17 Sya’ban 1410H atau bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1990. Ada dua wanita yang salah seorang diantaranya diganggu oleh jin dalam rahimnya. Sedangakan seorang lainnya, jin penghuni rahimnya mengeluarkan maninya di dalam Sehingga menyebabkan terjadinya keguguran. Dari wanita pertama, jin penghuni rahimnya dapat dikeluarkan. Dia berserah diri kepada Allah(masuk Islam) sesudah memberikan janjinya untuk melaksanakan islam dengan baik dan bertobat kepada Allah. Sedangkan jin kedua, penghunia wanita kedua. Dikehendaki Allah untuk mati, sesudah dibacakan Ayat Kursi dan Al-Mu’awwidzatayn.

Mukhannats adalah Anak Jin atau Setan

Apabila seorang laki-laki mencampuri istrinya ketika sedang haid, maka setan mendahuluinya. Ketika dia hamil dan melahirkan, maka yang lahir adalah al-mukhannats, yaitu anak-anak jin. Mencampuri wanita haid kadang-kadang bisa melahirkan mukhannats. Nuthfahnya rusak, bahkan bisa membuat laki-laki dan perempuan itu menderita penyakit.

Karena itu sudah merupakan kehendak Allah. Maka cukuplah sekiranya disini, bahwa Allah SWT melarang manusia maupun jin untuk mencampuri istrinya yang sedang haid. Barangsiapa melakukan itu, maka dialah yang bertanggung jawab terhadap akibatnya jika dari hubungan tersebut lahir mukhannats. Sebab itu hanyalah balasan yang setimpal.

Perkawinan Jin

Kehidupan jin sangat mirip dengan kehidupan alamiah manusia, ada cinta dan benci, kesepakatan dan perselisihan, kasih sayang dan permusuhan.

Tentang perasaan gembira yang ada dikalangan mereka, fenomena dan kebiasaannya berbeda satu sama lain, bahkan dalam hal kewajiban kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, keluarga yang satu dengan keluarga yang lain, kota yang satu dengan kota yang lain, dan negara yang satu dengan negara lainya.

Persetubuhan antara jin laki-laki dengan jin perempuan juga seperti manusia. Tetapi hal itu terjadi sesuai dengan sosok tubuh mereka yang umumnya kecil. Jin laki-laki bisa mencapai orgasme, mempunyai sperma, birahi, dan keinginan untuk bersetubuh, kerinduan dan keasyikan, perasaan dan emosi. Dalam aspek ini, mereka nyaris tidak berbeda sama sekali dengan manusia.

Malam pengantin bagi jin dama saja maknanya dengan malam pengantin bagi manusia. Jin laki-laki berdua-duaan dengan jin perempuan. Pengantin perempuan menyerahkan keperawanannya sebagai bukti atas kegadisannya. Kehormatan bagi kalangan jin tak kalah pentiingnya dibanding kalangan manusia, bahkan mungkin lebih penting. Sekalipun tetap saja ada jin pelacur.

Usia kawin dikalangan jin biasanya beberapa saat sesudah baligh. Tetapi umumnya di dunia jin, perkawinan berkisar antara 170 hingga 250 tahun yang dipandang sebagai usia perkawinan yang paling baik. Sedangkan sesudah usia itu, dianggap masuk usia 40 tahun di kalangan manusia. Di usia itulah perkawinan dimulai.

Hamil dan kelahiran adalah penciptaan di dalam penciptaan. Bahkan kesulitan kehamilan pada kalangan jin jauh lebih berat ketimbang yang dialami manusia. Karena masa kehamilan jin tidak berkisar antara enam sampai sembilan bulan seperti yang berlaku di kalangan manusia. Tetapi lima belas bulan, dimulai dengan masa berhenti haid yang disertai rasa sakit. Khusunya karena rahim jin kadang-kadang berisi tujuh sampai sembilan janin. Malahan bisa juga terjadi kembar dua belas.

Jin wanita juga menyusui sama seperti manusia. Perbedaannya terletak pada usia penyusuan yang bisa menghabiskan seluruh usia seorang manusia. Bayi jin, untuk waktu yang cukup lama tergolek tanpa bergerak dan bersuara. Karena ia banyak tidur. Sesudah itu ia tumbuh menjadi besar dan mulai belajar. Mungkin masuk sekolah atau perguruan tinggi, persis seperti manusia. Akan tetapi dengan sarana yang lebih canggih dan bermacam-macam, sesuai dengan dengan kehidupan dan kondisi para jin. Ada yang masuk Fakultas Kedokteran, Teknik, Sastra, dan Jurnalistik. Sama seperti manusia, hanya saja disesuaikan dengan kehidupan jin.


Sumber:
Buku Dialog dengan Jin Muslim

4 thoughts on “Perkawinan Antara Jin dan Manusia

Ada yang ingin Anda sampaikan? (minimal sertakan nama Anda)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s